
Meningkatnya jumlah kendaraan yang tidak signitifi kan dengan pertumbuhan panjang jalan menyebabkan kemacetan lalu lintas yang semakin hari semakin parah dan meluas. Ditambah lagi dengan adanya pemekaran kota , jarak tempuh perjalanan rata-rata kendaraan semakin jauh. Dua hal tersebut menjadi penyebab utama borosnya konsumsi BBM. Selain itu juga menambah jumlah polusi asap dan meningkatnya angka kecelakaan kendaraan bermotor.
Pada tahun 90-an, di Eropa mulai diperkenalkan program Ecodrive, yaitu suatu cara mengemudi yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan. Melalui cara ini konsumsi bahan bakar dapat dihemat hingga 15%. Artinya, jika sebuah kendaraan mobil menghabiskan 30 liter dalam sehari, dengan jarak yang sama, Eco-drive bisa menghemat biaya bensin lebih dari Rp 600.000/bulan. Eco-drive merupakan suatu edukasi untuk memperbaiki cara mengemudi, karena cara mengemudi yang baik dapat mengurangi borosnya konsumsi BBM. Menurut data hasil Clean Bus Pr ogram dan
Small-Medium Bus Program yang dilakukan Swisscontact, dengan perbaikan cara mengemudi dapat menghemat BBM hingga 11%. ìPengehematan ini akan lebih besar jika ditambah dengan pengetahuan yang benar tentang perawatan mesin ujar Heru Sugiarto, Program Offi cer Clean Air Project (CAP)-Swisscontact. Heru Sugiarto juga menambahkan dengan semakin kecil penggunaan bahan bakar maka secara otomatis akan terjadi penurunan emisi gas pembuangan kendaraan, sehingga selain berhemat dalam menggunakan BBM program Eco-drive turut mengurangi polusi asap kendaraan.
Kemanfaatan Eco-drive diuji dengan kerjasama dengan PT Holcim Indonesia ,Tbk. tujuannya selain untuk memperkenalkan kepada kalayak yang lebih luas, juga melihat dari segi ramah lingkungan untuk pelestarian dikarenakan PT Holcim Indonesia,Tbk. sudah memegang sertifi kat ISO 14000 sejak tahun 2004.
Hasil yang dicapai selama pelatihan terhadap pengemudi PT Holcim Indonesia ,Tbk. adalah penghematan BBM sebesar 14,81%. Bahkan ada salah satu pengemudi bisa menghemat hingga 25% ujar Sri Widodo RMC Transport and Logistic Manager Holcim. Fasilitas pelatihan Eco-drive dilakukan di Badan Termodinamika Motor dan Propulsi Puspitek Serpong.
Mengemudi Eco-Driving

Eco-driving adalah mengemudi ekonomis dan menyesuaikan diri dengan teknologi mesin modern, berarti lebih lembut, lancar serta aman berkendara pada putaran mesin rendah. Perilaku Ecodriving akan menghasilkan :
1. Menghemat biaya perawatan kendaraan
2. Hemat bahan bakar
3. Lebih berwawasan lingkungan
4. Lebih nyaman bagi penumpang
5. mengurangi stress pengemudi
Bagaimana cara mengemudi Eco-Driving?
1. Pindahkan transmisi ke posisi yang lebih tinggi secepat mungkin
Mesin berbahan bakar bensin atas gas perpindahan transmisi dapat dilakukan sebelum 2500 rpm. Kendaraan bermesin Diesel umumnya perpindahaan gigi transmisi dilakukan sebelum putaran 2000 rpm. Transmisi dipakai untuk mengatasi kebutuhan momen/torsi yang berbeda-beda, dengan cara menukar kombinasi perseneling untuk merubah tenaga mesin menjadi torsi yang sesuai dengan kondisi beban dan kecepatan kendaraan. Hal ini sangat diperlukan karena Anda tidak perlu terlalu lama pada posisi gigi perseneling tertentu dengan torsi yang besar untuk mencapai gigi perseneling yang lebih tinggi. Sebagian tenaga mesin hilang disebabkan oleh faktor gesekan dalam mesin itu sendiri. Semakin besar gesekan putaran mesin semakin tinggi, sebaliknya semakin kecil gesekan putaran mesin rendah, sehingga dapat menghemat bahan bakar. Effisiensi mesin meningkat ketika putaran mesin relatif rendah, putaran mesin yang rendah didapatkan apabila posisi perseneling yang tinggi.
Pada kendaraan yang bertransmisi otomatis biasanya perpindahan perseneling sudah diatur sedemikian rupa dan disesuaikan dengan tingkat effi siensi kerja mesin. Posisikan perseneling pada posisi N (netral) jika kendaraan dalam keadaan berhenti dan mesin hidup. Posisi perseneling di D dan kendaraan keadaan berhenti akan memboroskan bahan bakar.
2. Sedapat mungkin pertahankan kecepatan kendaraan pada putaran ekonomis
Ketika melakukan akselerasi, energi bahan bakar digunakan untuk menggerakan kendaraan, sedangkan energi tersebut hilang percuma ketika pengereman. Energi yang hilang berubah menjadi energi panas pada sistem rem, ketika pengereman keras dan mendadak komponen rem menjadi panas karena perubahan bentuk energi, maka pengulangan pengereman dan akselerasi yang berulang kali membutuhkan bahan bakar yang banyak. Kecepatan ekonomis yang disarankan maksimal 90 km/jam, lebih dari 100 km/jam sudah memasuki area pemborosan bahan bakar.
3. Hindari pengereman dan akselerasi yang tidak perlu
Pengereman yang tidak perlu memboroskan energi, hindari akselerasi yang ekstrim kecuali dalam keadaan terpaksa, antisipasi kondisi lalu lintas dan tidak mengikuti mobil lain terlalu dekat, menghindari akselerasi dan pengereman yang tidak perlu dapat menghemat bahan bakar 5-10%.
Sedapat mungkin mempertahankan kecepatan kendaraan pada posisi ekonomis, tidak hanya menghemat bahan bakar, tapi dapat mengurani emisi, meningkatkan keselamatan dan kenyamanan penumpang.

4. Antisipasi keadaan arus lalu lintas
Memandang ke depan sejauh mungkin sebagai antisipasi dan mempertahankan kecepatan adalah penting untuk mengindari pengereman mendadak. Hindari pengereman mendadak atau me ngemudi gaya "stop and go" serta menjaga jarak dari kendaraan di depan, lakukan perlambatan dengan secara perlahan maka kendaraan dapat menghemat bahan bakar secara signitifi kan serta memperlambat keausan sistem rem.
5. Memperlambat secara perlahan
Untuk lebih menghemat bahan bakar dapat juga dengan cara menetralkan segera transmisi atau menekan pedal kopling bila tenaga mesin untuk pengereman tidak diperlukan, mesin akan secepatnya kembali ke putaran idle dan sisa energi dorong (kinetis) kendaraan dapat dimanfaatkan sampai ke posisi diinginkan.
Kelima cara ini diterapkan pada pelatihan Eco-drive. Intinya apapun jenis kendaraan bermotor Anda cobalah untuk memposisikan perseneling setinggi mungkin dengan putaran mesin serendah mungkin dan injak pedal gas lebih dalam serta berusaha mempertahankan kecepatan ekonomis.
0 komentar:
Post a Comment