Indahnya Berbagi Pengetahuan

Kata-kata Hikmah

Mata adalah penuntun, dan hati adalah pendorong dan penuntut. Mata memiliki kenikmatan pandangan dan hati memiliki kenikmatan pencapaian. Keduanya merupakan sekutu yang mesra dalam setiap tindakan dan amal perbuatan manusia, dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain.

Kata-kata Hikmah

Hidup hanya Sekali dan Mati itu Pasti. Semuanya akan dipertanggung jawabkan kelak di akhirat. Dimanakah kamu berdiri dan dimana kamu berpihak?.

Kata-kata Hikmah

Barangsiapa yang bersandar pada hartanya, ketahuilah bahwa sewaktu-waktu ia akan miskin. Barangsiapa yang bersandar pada harga diri, ketahuilah bahwa suatu saat ia akan hina. Barangsiapa yang bersandar pada akalnya, maka ia akan tersesat. Namun, Barangsiapa yang bersandar pada Allah, sesungguhnya dia tak akan pernah miskin, hina, dan tersesat. (Ali bin Abi Thalib)

Kata-kata Hikmah

Tinggalkanlah yang membuatmu ragu kepada yang tidak ragu. Seseungguhnya jujur itu ketenangan dan bohong itu keraguan {HR at-Tirmidzi}.

Kata-kata Hikmah

Orang yang sukses adalah mereka yang berhasil mengenali, menggali, dan memompa seluruh potensi diri, sehingga mampu menggagas karya-karya dan ide-ide terbaik demi kemaslahatan umat.

Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Tuesday, 6 August 2019

Jika Anak Sekolah Terlalu Dini

( Gambar : https://roswellmovie.net )

Jika Anak Sekolah Terlalu Dini
oleh : Elly Risman, S. Psi


1. Keyakinan umum.
* Otak anak usia dini seperti spons, artinya ini masa yang tepat untuk ditanamkan ilmu, agar anak tumbuh cerdas
* Semakin dini disekolahkan, otak anak semakin berkembang.

2. Sehingga.
Ada ortu yang menyekolahkan sedini mungkin, bahkan ada yang masuk prasekolah diusia 1,5 sampai 2 tahun.

3. Mari kita bercermin.
* Apakah kita begitu meyakini bahwa anak harus segera pintar agar siap menghadapi persaingan zaman?
* Apakah kita disiapkan menjadi orang tua?
* Apakah memiliki bekal yang cukup dalam mengasuh?
* Bagaimana InnerChild diri kita?

4. Betapa kita disiapkan untuk menjadi ahli namun tidak disiapkan jadi orangtua, sehingga tidak punya Kesabaran & Endurance untuk jadi orang tua.

5. Ilmu yang kita miliki untuk mengasuh pun serba tanggung.
Ilmu yang setengah-tengah, berujung pada False Belief (Keyakinan Yang Salah).
Sayangnya False Belief ini dapat berubah menjadi Societal False Belief (Keyakinan Yang Salah pada Sekelompok Orang).

Jika orang tua tidak memiliki kemampuan berpikir (Thinking Skill) yang baik, False Belief akibat ilmu yang serba tanggung itu jadi pembenaran bersama atas keputusan kita yang keliru.

6. Pintar ada waktunya!
Karena yang berkembang adalah pusat perasaan, anak usia dini harus jadi anak yang bahagia, bukan jd anak yang pintar!

7. Kita berpikir...
"Kan di sekolah belajarnya sambil bermain"
"Kan anak perlu belajar sosialisasi"
"Kan anak jadi belajar berbagi dan bermain bersama"

Padahal...
* Anak usia dini belum perlu belajar sosialisasi dengan beragam orang
* Saat anak diusia dini, otak anak yang paling pesat berkembang adalah pusat perasaannya, bukan pusat berpikirnya.

8. Di sekolah, kegiatan anak hanya bermain kok!
Taukah ayah bunda, permainan terbaik adalah tubuh ayah ibunya! Bermain dengan ayah ibu juga menciptakan kelekatan. Misal: bermain peran, bermain pura-pura, muka jelek, petak umpet.

9. Di sekolah, mainan lebih lengkap.
Permainan paling kreatif adalah bermain tanpa mainan. Jangan batasi kreatifitas anak dengan permainan yang siap pakai. Contoh: karpet jadi mobil, panci jadi topi.

10. Di sekolah, anak belajar bersosialisasi dan berbagi.
Anak dibawah 5 tahun belum saatnya belajar sosialisasi. Ia belum bisa bermain bersama. Mereka baru bisa bermain bersama-sama.
Bermain bersama-sama = bermain diwaktu dan tempat yang sama namun tidak berbagi mainan yang sama (menggunakan mainan masing2)
Bermain bersama = bermain permainan yang membutuhkan berbagi mainan yang sama.

11. Di sekolah, anak belajar patuh pada aturan dan mengikuti instruksi.
Aturan dan instruksi perlu diterapkan setahap demi setahap. Jika di rumah ada aturan, di sekolah ada aturan, berapa banyak aturan yang harus anak ikuti? Apa yang dirasakan anak?

Analogi: Seorang anak dibawah 5 tahun yang sangat berbakat dalam memasak, dimasukkan ke sekolah memasak. Di sekolah itu, dia diajari berbagai aturan memasak yang banyak, dilatih oleh beberapa instruktur sekaligus. Yang dirasakan anak adalah pusing!

12. Memasukkan sekolah anak terlalu dini, sama seperti menyemai benih kanker.
Kita tidak tahu kapan kanker akan muncul & dalam jenis apa. Otaknya belum siap. Kita tidak pernah tahu kapan ia kehilangan motivasi belajar. Semakin muda kita sekolahkan anak, semakin cepat pula ia mengalami BLAST (Bored Lonely Afraid-Angry Stress Tired), anak yang mengalami BLAST, lebih rentan menjadi pelaku dan korban Bullying, Pornografi dan Kejahatan Seksual.

13. Jika si adik ingin ikut kakaknya sekolah...
Sekolah itu bukan karena ikut-ikutan. Anak harus masuk masa Teachable Moment, karena memang ada anak yang mampu sekolah lebih cepat dari ketentuan umum yang berlaku. Orang tua harus mampu mengendalikan keinginan anak. Kendali ada ditangan orang tua, karena otak anak belum sempurna bersambungan.

14. Ciri anak memasuki masa Teachable Moment.
* Menunjukkan minat untku sekolah
* Minat tersebut bersifat menetap
* Jika kita beri kesempatan untuk bersekolah, ia menunjukkan kemampuannya.

15. Kapan sebaiknya anak masuk sekolah?
* TK A → usia 5 th
* TK B → usia 6 th
* SD → usia 7 th

Dibawah usia 5 tahun, anak tidak perlu bersekolah. Kebutuhan anak 0-8 tahun adalah bermain dan terbentuknya kelekatan.

“Jangan kau cabut anak-anak dari dunianya terlalu cepat, karena kau akan mendapatkan orang dewasa yang kekanakan.” - Prof. Neil Postman, The Disappearance Childhood -

Sumber: Yayasan Kita & Buah Hati





Wednesday, 31 July 2019

Filosofi Kopi






FILOSOFI KOPI
Kyai : Tolong buatkan kopi dua gelas untuk kita berdua, tapi gulanya jangan engkau tuang dulu, bawa saja ke mari beserta wadahnya.

Santri : Baik, kyai.


      Tidak berapa lama, sang santri sudah membawa dua gelas kopi yang masih hangat dan gula di dalam wadahnya beserta sendok kecil.

Kyai : Cobalah kamu rasakan kopimu nak , bagaimana rasa kopimu?

Santri : Rasanya sangat pahit sekali Kyai!

Kyai : Tuangkanlah sesendok gula, aduklah, bagaimana rasanya?

Santri : Rasa pahitnya sudah mulai berkurang, Kyai!

Kyai : Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

Santri : Rasa pahitnya sudah berkurang banyak, Kyai!

Kyai : Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

Santri : Rasa manis mulai terasa tapi rasa pahit juga masih sedikit terasa, Kyai!

Kyai : Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

Santri : Rasa pahit kopi sudah tidak terasa, yang ada rasa manis, Kyai!

Kyai : Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimaa rasanya?

Santri : sangat manis sekali, Kyai!

Kyai : Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

Santri : Terlalu manis. Malah tidak enak, kyai!

Kyai : Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

Santri : Rasa kopinya jadi tidak enak, lebih enak saat ada rasa pahit kopi dan manis gulanya sama-sama terasa, Kyai!

Kyai : Ketahuilah nak.. pelajaran yang dapat kita ambil dari contoh ini adalah.. jika rasa pahit kopi ibarat kemiskinan hidup kita, dan rasa manis gula ibarat kekayaan harta, lalu menurutmu kenikmatan hidup itu sebaiknya seperti apa nak?


      Sejenak sang santri termenung, lalu menjawab.

Santri : Ya Kyai, sekarang saya mulai mengerti, bahwa kenikmatan hidup dapat kita rasakan, jika kita dapat merasakan hidup seperlunya, tidak melampaui batas. Terimakasih atas pelajaran ini, kyai.

Kyai : Ayo santriku, kopi yang sudah kamu beri gula tadi, campurkan dengan kopi yang belum kamu beri gula, aduklah, lalu tuangkan dalam kedua gelas ini, lalu kita nikmati segelas kopi ini.

     
     Sang santri lalu mengerjakan perintah kyai.

Kyai : Bagaimana rasanya?

Santri : Rasanya nikmat, Kyai!

Kyai : Begitu pula jika engkau memiliki kelebihan harta, akan terasa nikmat bila engkau mau membaginya dengan yang memerlukan.

Santri : Terima kasih atas petuahnya, Kyai!




" SELAMAT NGOPI !!! "




Thursday, 11 May 2017

Seperti Apa Anda Mengukir Sejarah?





Mati adalah awal kehidupan. Hidup adalah pangkal kematian. Hidup dan mati, datang silih berganti, tidak ada yang kekal abadi. Itulah hukum alam yang hakiki. Oleh sebab itu, jangan takut mati, jangan mencari mati. 

Selama hidup, lebih baik bersegeralah perbanyak kebaikan, syukuri diri dalam keadaan apapun, dan tahu diri di manapun. Bebas, lepas, tidak terikat dan melekat, cerah ceria, berpikir optimis dan positif setiap saat, Insya ALLAH hidup senang, mati tenang. :-)

Kisah Nyata...

Pagi itu seorang pria menjalani rutinitasnya seperti biasa. Sebagai seseorang yang mempunyai relasi luas dan sibuk, ia selalu menyempatkan diri untuk membaca kolom pengumuman termasuk juga kolom berita kematian. 

Tiba-tiba matanya membaca sebuah berita, berita yang sangat mengejutkan dan membuat bulu kuduknya merinding. Ia sedang membaca berita kematiannya sendiri. Pria ini terhenyak, ia lalu bertanya kepada dirinya sendiri, apakah ia masih hidup? Apakah saat ini ia ada di dunia atau di alam baka? Saat ia menyadari bahwa ada sebuah kesalahan dalam berita ini, mungkin karena memiliki nama yang sama, pastilah redaksi koran ini telah melakukan kesalahan.

Namun karena rasa penasaran ia pun melanjutkan membaca berita tersebut. Ia ingin tahu apa tanggapan orang mengenai dirinya.
Dalam artikel itu ia disebut dengan panggilan 'raja dinamit' telah wafat.

Pada bagian lain ia juga disebut sebagai 'partner dewa kematian'.

Ia terkejut bukan kepalang, apakah seperti ini dirinya akan dikenang oleh orang-orang?

Kejadian ini membuka pikirannya, ia lalu memutuskan bahwa ia tidak ingin dikenang seperti itu.

Ia bertekad mulai saat itu juga ia akan berjuang demi kedamaian dan kemanusiaan.

Begitulah akhirnya, pria yang bernama Alfred Nobel ini dengan tekadnya ia berusaha hingga pada akhirnya namanya diabadikan dalam hadiah perdamaian yaitu Nobel Prizes.
Bagaimana dengan Anda? Seperti apa Anda ingin dikenang oleh orang-orang yang Anda tinggalkan? Warisan apa yang akan Anda sumbangsihkan demi mashlahat umat banyak? Apakah orang-orang akan mengingat Anda dengan penuh cinta dan rasa hormat?

Mari kita bersegera lakukan sebanyak kebaikan, mulai hari ini, detik ini, saat ini juga.


Sumber :
Anne Ahira Newsletter Think & Succeed!

Manusia Terindah Adalah…

Kehidupan adalah panggung sandiwara,dan sandiwara itu sepenuhnya menceritakan tentang kehidupan umat manusia.

Maka sepanjang jalan kehidupan kita, jangan pernah melakukan perbuatan jahat, atau melakoni peran yang konyol!

"Kesuksesan hidup tidak ada hubungannya dengan apa yang Anda dapatkan atau raih demi diri sendiri. Kesuksesan hidup berhubungan dengan apa yang Anda lakukan pada sesama (untuk orang lain)"
- Danny Thomas


Teman-tamanku yang bersih hatinya...

Dalam hidup, orang tak akan peduli berapa banyak yang kita tahu, hingga mereka tahu berapa banyak kita peduli kepada mereka.

Oleh sebab itu kita sering mendengar bahwa manusia terindah adalah manusia yang bermanfaat untuk saudaranya, dan orang lain.

Seorang ulama mengatakan:

"Janganlah engkau menunggu kaya untuk bersedekah, tapi bersedekahlah sekarang juga, maka engkau akan semakin kaya. Sumbangkanlah setiap kebaikan, berikanlah setiap kasih sayang, tunjukkanlah keakraban, bantulah mereka yang memerlukan"

Wahai Kawan mari kita belajar memberi manfaat untuk orang lain... sebelum diminta!

Sumber :

PT. Asian Brain IMC
Jl. Bojong Sereh No.668 Banjaran, Bandung 40376 - INDONESIA
Phone: (022) 5944-999, (022) 5945-999, (022) 5946-999
Fax: (022) 5947-999


Foto-foto Luar Biasa Proses Kejadian Seorang Manusia

Berikut ini beberapa seleksi fotografer Swedia bernama Lennart Nilsson. Dia terkenal dengan foto2 in vivo embrio manusia dan subjek2 kedokteran lainnya yang dulu dianggap tidak bisa diabadikan lewat foto.

Dia menggunakan sebuah endoskop untuk membuat gambar2 menakjubkan ini!

Dalam seri foto ini, dia menguak semua rahasia - bagaimana kehidupan berawal!!! Bukti keagungan Tuhan!!!

Ini bukan ilustrasi, bukan pula hasil ilustrasi.. This is real!!!



































































" Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.  Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik." ( Q.S. Al Mu'minun 12 - 14 )


Wednesday, 10 May 2017

Foie Gras "Hati Tambun"

FOIE GRAS


Foie Gras artinya "Hati Tambun".


Ini adalah menu yang sangat sangat mewah, berasal dari Perancis.



Tapi rupanya bahan makanan ini didapat dengan memberi makan angsa SECARA BERLEBIHAN supaya angsa mempunyai PENYAKIT PEMBENGKAKAN HATI.

Marilah kita lihat asal dari masakan yang indah tersebut.

Jangan diteruskan membaca jika tidak tahan ...!!!



Angsa-angsa ini dipaksa makan ... meskipun sudah muak



Pipa besi dimadukkan lewat kerongkongan ke perut ... walaupun angsa itu tidak ingin makan apa pun


Untuk membuat hatinya membesar dan tambun, Angsa dimasukkan dalam kandang sempit, yang memmaksa mereka tidak bisa berputar atau menggerakkan tubuhnya.

Kaki mereka bengkak karena berdiri setiap hari. Tidak bisa tidur karena mereka selalu ditangkap, dipaksa untuk makan.


Walaupun berontak dan mempertahankan diri, tapi itu tidak berguna



Begitu menyedihkan kehidupan seperti ini ...



Mereka dipaksa makan sampai mati atau tidak bisa berdiri lagi. Anda lihat ... dari mulut mereka meluap keluar makanan



Yang bisa bertahan menderita peradangan anus ... darah mengalir keluar dengan mudah

Tidak hanya mulut disakiti, kerongkongan disakiti, setiap waktu perut diisi makanan, bengkak kedua kakinya, tidak tidur, tidak bisa bergerak - juga kehilangan kebebasan hidup melihat langit atau aliran sungai.



 

Untuk bisa didapatkan sebuah hati yang putih dan indah seperti ini






Seperti hati dalam kaleng yang diimpor dari Perancis

Friday, 5 May 2017

Andalah Orangnya!


Terjemahan bebas dari materi oleh Paul Evans

Alasan nomor satu yang sering Saya dengar, tentang penolakan orang untuk berbicara di depan publik adalah, "Emangnya Saya ini siapa, bicara di depan audience ini? Saya bukan siapa-siapa."

Pertama, Andalah orang yang harus berbicara jika Anda MENGINGINKANNYA.

Setiap pembicara profesional memulainya di tingkat nol. Hanya saja, mereka melakukan satu hal: Mereka memutuskan untuk bicara. Mereka memutuskan untuk menjadi pembicara. Suatu hari mereka mengatakan pada dirinya sendiri, "Saya akan menjadi expert dalam bidang..." Dan memang itulah yang mereka capai.

Anda bisa menjadi expert hanya untuk satu hari, jika Anda memang mau. Jadilah ORANG ITU untuk subyek tertentu. Pelajari. Serap semaksimal mungkin.

Jika kita bicara iklan, ORANG ITU adalah Basuki atau Deddy Mizwar;
Bicara pemasaran, ORANG ITU adalah Hermawan Kertajaya atau Rhenald Kasali;
Bicara kesehatan seksual, ORANG ITU adalah Naek L Tobing;
Jika kita bicara Windows, ORANG ITU adalah Bill Gates.

Anda bisa menentukan untuk diri sendiri, Anda adalah ORANG ITU. Dan ORANG ITU tidak harus satu.

Ambillah keputusan untuk menjadi ORANG ITU, orang yang menyampaikan pesan dari hati, atau pesan yang dititipkan kepada Anda.

Kedua, Anda adalah UNIK.

Tidak ada ANDA yang kedua. Kedengaranya klise, tapi tidak. Cara anda memandang hidup. Cara Anda mereguk hidup. cara Anda menjalani hidup. Cara Anda mentertawakan hidup. Cara Anda menangisi hidup. Cara Anda memimpikan hidup.

Tidak seorang pun bisa melakukannya seperti Anda melakukannya.

Para pembicara profesional, mengandalkan pengalaman pribadi mereka dalam berbagai sesi bicara. Hanya itulah cara terbaik untuk menunjukkan kredibilitas
mereka di dalam berbagai pesan dan bicara mereka. Apa yang membuat hal ini bisa diterima, adalah fakta bahwa mereka mengantarkan berbagai nilai melalui kehidupan mereka sendiri.

Anda juga bisa.

Anda punya segudang pengalaman bernilai yang bisa dibagi untuk menolong orang lain. Untuk belajar, untuk meringankan berbagai beban, dan untuk tumbuh dan berkembang.

Saya ceritakan tentang salah satu kisah hidup Saya.

Delapan tahun yang lalu, istri Saya meninggal mendadak. Usianya dua puluh tujuh tahun. Saya sendiri dua puluh lima tahun waktu itu. Anak kami, Sam, baru berusia lima minggu. Kematian istri Saya terjadi tepat di depan mata Saya.

Sebagai seorang suami muda dan orang tua, apakah Saya adalah pria pertama yang
mengalami tragedi ini? Tidak. Akan tetapi, pengalaman Saya itu hanya bisa diceritakan oleh saya sendiri. Bukan oleh orang lain.

Saya telah menceritakan pengalaman itu kepada ribuan orang.

Anda mungkin tidak percaya, bahwa kisah saya ini bisa sangat membantu orang lain dalam menghadapi hidupnya. Hidup pribadi dan kehidupan bisnis mereka. Dari pelayanan yang baik oleh pihak pengurus pemakaman dan pihak asuransi jiwa, Saya bercerita kepada ribuan orang tentang betapa baik dan benarnya yang telah mereka lakukan.

Tapi itu belum semua.

Saya juga bisa berbagi dengan berbagai organisasi, yang menginginkan Saya mengajari orang-orangnya untuk menikmati setiap momen, dan tidak hidup sekedarnya.

Saya bisa saja membatasi diri Saya hanya pada satu pasar atau topik. Tapi itu juga bukan keharusan.

Anda mungkin berpikir, "Tidak seperti itu yang terjadi pada Saya." saya berharap tidak. Tapi Anda memang tidak membutuhkan sebuah kejayaan atau sebuah tragedi untuk menjadi ORANG ITU. Jadilah Anda saja!
Andalah orang yang harus berbicara.
Andalah yang diminta untuk berbicara.
Andalah yang punya pesan.
Andalah yang mengalami pengalaman.
Andalah ORANG ITU, yang tidak ada yang menyamai ORANG ITU.

5 (Lima) "S"


Suatu saat, adzan Maghrib tiba. Kami bersegera shalat di sebuah mesjid yang dikenal dengan tempat mangkalnya aktivis Islam yang mempunyai kesungguhan dalam beribadah. Di sana tampak beberapa pemuda yang berpakaian “khas Islam” sedang menantikan waktu shalat. Kemudian, adzan berkumandang dan qamat pun segera diperdengarkan sesudah shalat sunat. Hal yang menarik adalah begitu sungguh-sungguhnya keinginan imam muda untuk merapikan shaf. Tanda hitam di dahinya, bekas tanda sujud, membuat kami segan. Namun, tatkala upaya merapikan shaf dikatakan dengan kata-kata yang agak ketus tanpa senyuman, “Shaf, shaf, rapikan shafnya!”, suasana shalat tiba-tiba menjadi tegang karena suara lantang dan keras itu. Karuan saja, pada waktu shalat menjadi sulit khusyu, betapa pun bacan sang imam begitu bagus karena terbayang teguran yang keras tadi.

Seusai shalat, beberapa jemaah shalat tadi tidak kuasa menahan lisan untuk saling bertukar ketegangan yang akhirnya disimpulkan, mereka enggan untuk shalat di tempat itu lagi. Pada saat yang lain, sewaktu kami berjalan-jalan di Perth, sebuah negara bagian di Australia, tibalah kami di sebuah taman. Sungguh mengherankan, karena hampir setiap hari berjumpa dengan penduduk asli, mereka tersenyum dengan sangat ramah dan menyapa “Good Morning!” atau sapa dengan tradisinya. Yang semuanya itu dilakukan dengan wajah cerah dan kesopanan. Kami berupaya menjawab sebisanya untuk menutupi kekagetan dan kekaguman. Ini negara yang sering kita sebut negara kaum kafir.

Dua keadaan ini disampaikan tidak untuk meremehkan siapapun tetapi untuk mengevaluasi kita, ternyata luasnya ilmu, kekuatan ibadah, tingginya kedudukan, tidak ada artinya jikalau kita kehilangan perilaku standar yang dicontohkan Rasulullah SAW, sehingga mudah sekali merontokan kewibawaan dakwah itu sendiri.

Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan dengan berinteraksi dengan sesama ini, bagaimana kalau kita menyebutnya dengan 5 (lima) S : Senyum, salam, sapa, sopan, dan santun.

Kita harus meneliti relung hati kita jikalau kita tersenyum dengan wajah jernih kita rasanya ikut terimbas bahagia. Kata-kata yang disampaikan dengan senyuman yang tulus, rasanya lebih enak didengar daripada dengan wajah bengis dan ketus. Senyuman menambah manisnya wajah walaupun berkulit sangat gelap dan tua keriput. Yang menjadi pertanyaan, apakah kita termasuk orang yang senang tersenyum untuk orang lain? Mengapa kita berat untuk tersenyum, bahkan dengan orang yang terdekat sekalipun. Padahal Rasulullah yang mulia tidaklah berjumpa dengan orang lain kecuali dalam keadaan wajah yang jernih dan senyum yang tulus. Mengapa kita begitu enggan tersenyum? Kepada orang tua, guru, dan orang-orang yang berada di sekitar kita?

"S" yang kedua adalah Salam
Ketika orang mengucapkan salam kepada kita dengan keikhlasan, rasanya suasana menjadi cair, tiba-tiba kita merasa bersaudara. Kita dengan terburu-buru ingin menjawabnya, di situ ada nuansa tersendiri. Pertanyaannya, mengapa kita begitu enggan untuk lebih dulu mengucapkan salam? Padahal tidak ada resiko apapun. Kita tahu di zaman Rasulullah ada seorang sahabat yang pergi ke pasar, khusus untuk menebarkan salam. Negara kita mayoritas umat Islam, tetapi mengapa kita untuk mendahului mengucapkan salam begitu enggan? Adakah yang salah dalam diri kita?

"S" ketiga adalah sapa. 
Mari kita teliti diri kita kalau kita disapa dengan ramah oleh orang lain rasanya suasana jadi akrab dan hangat. Tetapi kalau kita lihat di mesjid, meski duduk seorang jamaah di sebelah kita, toh nyaris kita jarang menyapanya, padahal sama-sama muslim, sama-sama shalat, satu shaf, bahkan berdampingan. Mengapa kita enggan menyapa? Mengapa harus ketus dan keras? Tidakkah kita bisa menyapa getaran kemuliaan yang hadir bersamaan dengan sapaan kita?

"S" keempat adalah Sopan. 
Kita selalu terpana dengan orang yang sopan ketika duduk, ketika lewat di depan orang tua. Kita pun menghormatinya. Pertanyaannya, apakah kita termasuk orang yang sopan ketika duduk, berbicara, dan berinteraksi dengan orang-orang yang lebih tua? Sering kita tidak mengukur tingkat kesopanan kita, bahkan kita sering mengorbankannya hanya karena pegal kaki, dengan bersolonjor misalnya. Lalu, kita relakan orang yang di depan kita teremehkan. Patut kiranya kita bertanya pada diri kita, apakah kita orang yang memiliki etika kesopanan atau tidak.

"S" kelima adalah santun. 
Kita pun berdecak kagum melihat orang yang mendahulukan kepentingan orang lain di angkutan umum, di jalanan, atau sedang dalam antrean, demi kebaikan orang lain. Memang orang mengalah memberikan haknya untuk kepentingan orang lain, untuk kebaikan. Ini adalah sebuah pesan tersendiri. Pertanyaannya adalah, sampai sejauh mana kesantunan yang kita miliki? Sejauh mana hak kita telah dinikmati oleh orang lain dan untuk itu kita turut berbahagia? Sejauh mana kelapangdadaan diri kita, sifat pemaaf ataupun kesungguhan kita untuk membalas kebaikan orang yang kurang baik?

Saudara-saudaraku, Islam sudah banyak disampaikan oleh aneka teori dan dalil. Begitu agung dan indah. Yang dibutuhkan sekarang adalah, mana pribadi-pribadi yang indah dan agung itu? Yuk, kita jadikan diri kita sebagai bukti keindahan Islam, walau secara sederhana. Amboi, alangkah indahnya wajah yang jernih, ceria, senyum yang tulus dan ikhlas, membahagiakan siapapun. Betapa nyamannya suasana saat salam hangat ditebar, saling mendo’akan, menyapa dengan ramah, lembut, dan penuh perhatian. Alangkah agungnya pribadi kita, jika penampilan kita selalu sopan dengan siapapun dan dalam kondisi bagaimana pun. Betapa nikmatnya dipandang, jika pribadi kita santun, mau mendahulukan orang lain, rela mengalah dan memberikan haknya, lapang dada, pemaaf yang tulus, dan ingin membalas keburukan dengan kebaikan serta kemuliaan.

Saudaraku, Insya Allah. Andai diri kita sudah berjuang untuk berperilaku lima S ini, semoga kita termasuk dalam golongan mujahidin dan mujahidah yang akan mengobarkan kemuliaan Islam sebagaimana dicita-citakan Rasulullah SAW, Innama buitsu liutammima makarimal akhlak, “Sesungguhnya aku diutus ke bumi ini untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak."
oleh : KH. Abdullah Gymnastiar 
Sumber : http://www.dudung.net/artikel-islami/5-lima-s.html

Umur Yang Mencair Seperti Es

Cepat sekali waktu berlalu. Mengalir tak pernah berhenti. Jam demi jam, menit demi menit, detik demi detik, bergerak. Waktu tak dapat ditunda, tak dapat ditahan dan tak mungkin ada yang mampu mengulang. Itu artinya, usia kita pun berkurang. Kita... semakin dekat ke liang lahat. Saudaraku, entah, apakah pertambahan dan perguliran waktu itu, berarti mendekatkan diri kita pada kenikmatan surga. Atau mendekatkan kita pada kesengseraan neraka. Nauzubillah....

Rasul saw. Menyifatkan cepatnya perjalanan waktu kehidupan seperti perjalanan seorang musafir yang hanya sejenak berhenti di bawah pohon di tengah perjalanan yang amat panjang. Para ulama juga banyak menguraikan ilustrasi tentang hidup yang amat singkat ini. "Umurmu akan mencair seperti mencairnya es, " kata Imam Ibnul Jauzi. (Luthfu fil Wa'z, 31)

Saudaraku, sahabatku,
Semoga Allah memberkahi sisa usia kita, Permasalah terbesar setiap orang adalah ketika kecepatan umur dan waktu hidupnya tidak seiring dengan kecepatannya untuk menyelamatkan diri dari penderitaan abadi di akhirat. Ketika, usia yang sangat terbatas itu tidak berfungsi sebagai pelindung diri dari beratnya adzab dan siksa Allah swt. Di saat, banyaknya hembusan dan tarikan nafasnya tak sebanding dengan upaya dan jihadnya untuk terhindar dari lubang kemurkaan Allah. Ketika, jumlah detak jantung dan aliran darah yang di pompa di dalam tubuhnya, tak sebanyak gerak dan tingkahnya untuk menjauhi berbagai kemaksiatan yang dapat memunculkan kesengsaraan akhirat.

Saudaraku,
Sesungguhnya jiwa kita adalah milik Allah dan kepada-Nya lah jiwa ini akan kembali....
Suasana hati seperti inilah yang perlu kita tumbuhkan. Adakah di antara kita yang tidak mempunyai dosa? Atau merasa mampu menebus kotoran dan dosa yang telah dilakukan selama puluhan tahun usia yang telah lewat? Tentu tidak. Perasaan kurang, merasa banyak melakukan kemaksiatan, lalu menimbulkan penyesalan adalah bagian dari pintu-pintu rahmat Allah yang akan mengantarkan kita pada taubat. Suasana hati seperti inilah yang akan mendorogng pemilikinya bertekad mengisi hari dengan amal yang lebih untuk menebus kesalahan yang lalu.

Saurdaraku, mari menangguk pahala, meraih rahmat dan ampunan Allah sebanyak-banyaknya sekarang juga. Perbanyaklah dzikir, bersedekah, berjihad dan beramal shalih.....Tak ada kata terlambat untuk melakukan kebaikan. Sekarang dan jangan tunda-tunda lagi niat baik kita.... Semoga Allah meneguhkan kekuatan kita untuk melakukan kebaikan yang kita niatkan...
 
Amiiin.

Sumber : http://www.dudung.net/artikel-islami/umur-yang-mencair-seperti-es.html
Taufan - getaufan@yahoo.com


Wednesday, 3 May 2017

Jadilah Orang Yang Berguna

Di Philadelphia, Amerika Serikat, ada seorang resepsionis hotel tua yang senantiasa memberikan pelayanan yang terbaik untuk setiap tamu-tamu hotel tempat ia bekerja. Selama bertahun-tahun dia bekerja, tidak pernah ada kenaikan jabatan atau kenaikan gaji yang signifikan. Tetapi itu semua tidak menghentikannya memberikan pelayanan terbaik. Hingga suatu ketika, dia mendapatkan sebuah undangan dan tiket untuk pergi ke New York oleh seseorang yang mengaku mengenalnya. 


Setibanya di New York, dia dijemput oleh seorang pria tua. Mereka kemudian pergi ke sebuah perempatan besar. Di sana pria tua itu menunjuk sebuah bangunan mewah dihadapannya sambil berkata "Itu adalah hotel yang saya bangun khusus untuk anda. Saya ingin anda menjadi manajer hotel saya itu." Si resepsionis terkejut kemudian bertanya, "Siapa Anda? Kenapa Anda lakukan ini untuk saya?" 

Pria tua itu menjawab, "Dua tahun yang lalu, saya dan istri saya datang ke hotel tempat anda bekerja untuk menginap. Tetapi ternyata hotel anda sudah penuh, sama seperti hotel-hotel lainnya di sana. Namun kemudian anda memberikan saya kamar yang seharusnya menjadi jatah anda. Anda memilih untuk tidur di sofa daripada membiarkan saya tidak memiliki tempat menginap. Saat itu saya berjanji pada diri saya sendiri, Suatu saat nanti, saya akan membangun sebuah hotel untuk anda." 
Pria itu adalah William Astor, hotel yang dibangunnya adalah Waldorf-Astoria hotel yang pertama. Resepsionis itu bernama George C. Bold, yang akhirnya menjadi manajer pertama hotel tersebut. 

Saya sudah menemukan beragam kisah tentang seseorang yang memperoleh keberuntungan dan juga rezeki "nomplok". Ada seorang tukang becak yang mampu pergi haji. Ada office boy yang kemudian menjadi vice president sebuah bank bertaraf internasional. Ada loper koran yang memenangkan hadiah Rp 500 juta ketika mengikuti suatu kuis di salah satu televisi swasta. Semua penumpang Adam Air selamat, padahal pesawat telah kehilangan sistem navigasi. Dan banyak cerita keberuntungan lainnya. 

Semua kejadian itu, bukanlah kebetulan. Ternyata, ada mekanisme atau hukum alam yang menjamin bahwa kebaikan yang kita lakukan pasti akan berbuah keberuntungan. Hukum alam itu adalah hukum kekekalan energi. Hukum ini menyatakan bahwa energi di dunia ini tetap dan tidak akan pernah hilang, yang ada hanyalah berubah bentuk. 

Setiap hari kita mengeluarkan energi. Ketika kita bekerja, menjamu tetangga, bermain dengan anak-anak dan sebagainya, semua mengeluarkan energi. Energi itu tidak hilang. Energi itu akan menghasilkan energi dalam bentuk lain yang dapat kita rasakan. Gerakan tangan menjadi sebuah tulisan. Berolahraga menghasilkan badan sehat. Menuntut ilmu menghasilkan luasnya wawasan. Senyuman menjadi rasa cinta. Kesungguhan dan keseriusan menghasilkan prestasi. Kunjungan ke rumah sahabat atau saudara menambah keakraban dan sebagainya. 

Karena energi tak akan hilang dan hanya berubah bentuk maka setiap kebaikan yang kita lakukan tidak akan pernah sia-sia. Energi positif (kebaikan) yang kita lakukan pasti akan berbuah sesuatu yang positif beberapa saat setelah kita melakukan atau berbuah di kemudian hari. 

Jadi, bila kehidupan anda ingin dipenuhi keberuntungan- keberuntungan dan kebahagian maka lakukanlah banyak energi positif berupa kebaikan sekarang juga. Saya yakin kelak anda akan memanen buah dari benih kebaikan yang anda lakukan saat ini. Bergegaslah sekarang juga menebar energi positif. Suatu saat nanti, pasti banyak keberuntungan hidup menjemput anda.


Beberapa Orang Tidak Menghargai Pengalaman

Kita tahu bahwa kita akan selalu belajar dan belajar dalam mengarungi hidup ini. Dengan bertambahnya waktu, pengetahuan kita pastilah selalu bertambah. Tapi terkadang kita hanya sibuk dengan diri kita sendiri akan pencarian jati diri atau pencarian sesuatu yang semu. Padahal kalau kita mau menyadari, kita bisa mengetahui terlebih dahulu tanpa harus melakukan.


Misalnya seperti ini. Kita sedang bepergian ke suatu tempat. Tapi ternyata di tengah jalan kita menemui seseorang. Orang tersebut memberitahukan bahwa beberapa meter lagi akan ada lubang besar. Kita tahu bahwa secara langsung kita tidak tahu dan bisa dikatakan kita tidak langsung percaya saja. Karena kita terlalu suka akan tantangan, resiko. Atau mungkin kita sudah tidak tahu diri?.

Memang sulit untuk menjabarkan sesuatu hal yang berbau dengan pembuktian sesuatu ataupun pembuktian diri. Selain kita suka yang instan - instan, kadang jiwa "sok" petualang itu kerap muncul. Apalagi kalau kita menyebut hal itu adalah sebuah pengalaman hebat. Adakalanya pepatah, "Pengalaman adalah guru yang baik" tidak berlaku disini. Kita bisa melakukan sesuatu tanpa kita langsung mencobanya, paling tidak bisa meminimalkan resiko yang ada. Contohnya, seorang pengusaha. Bayangkan jika dia tidak malu untuk membaca buku, bertanya dengan orang yang relevan pada keahliannya, tentu saja dia akan mudah sukses. Karena beberapa pengalaman tidak harus dia dapatkan sendiri, tapi bisa diperoleh dari tempat lain.

Coba kita renungkan, selain suka petualangan cobalah untuk kembali instan.


Friday, 28 April 2017

CUKUP Itu Berapa?

Alkisah, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib. Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya. Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti, bila si petani mengucapkan kata "CUKUP".

Seketika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya. Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubuk mungilnya untuk disimpan di sana. Kucuran uang terus mengalir, sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya.

Masih kurang! Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya petani itu mati tertimbun bersama ketamakannya, karena dia tak pernah bisa berkata "CUKUP".

Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah kata "CUKUP". Kapankah kita bisa berkata "CUKUP"? Hampir semua pegawai merasa gajinya belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya. Pengusaha hampir selalu merasa pendapatan perusahaannya masih dibawah target. Istri mengeluh suaminya kurang perhatian. Suami berpendapat istrinya kurang pengertian. Anak-anak menganggap orang tuanya kurang murah hati. Semua merasa kurang, kurang dan kurang. Kapankah kita bisa berkata "CUKUP"?

"CUKUP" bukanlah soal berapa jumlahnya.
"CUKUP" adalah persoalan kepuasan hati.
"CUKUP" hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa mensyukuri.

Tak perlu takut berkata "CUKUP". Mengucapkan kata "CUKUP" bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya. "CUKUP" jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandeg dan berpuas diri.
 

Mengucapkan kata "CUKUP" membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan. Jangan biarkan kerakusan manusia membuat kita sulit berkata "CUKUP".



Belajarlah menCUKUPkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia
yang berbahagia.

Belajarlah untuk berkata "CUKUP".

Aku tak suka bibirku.. kurang seksi. Aku ingin seperti Angelina Jolie. 



Di saat yang sama, seseorang berharap. Tuhan, berikanlah aku bibir yang normal!!!

 



Aku ingin mataku berwarna biru.... Akan lebih cantik bila aku punya mata berwarna biru.



Di saat yang sama, seseorang berharap.... .......
Tuhan, kenapa Kau tidak berikan aku sepasang mata untuk melihat ???




 


Aku oleskan pewarna dan kurawat jari2ku, agar selalu tampil cantik.



Di saat yang sama, seseorang bersyukur... ...
Tuhan, Kau hanya berikan aku 4 jari, namun aku mensyukurinya! !!





Aku akan ke salon, creambath dan hair spa, agar rambutku tampil cantik......



Di saat yang sama, seseorang menangis......
Tuhan, kenapa aku diberikan kepala dengan ukuran yang berbeda???
Kalau seperti ini, rambut seperti apapun akan terlihat aneh...



Di saat yang sama seseorang bersyukur...
Tuhan, Kau tak memberikan aku tangan dan kaki, namun aku bahagia, aku masih bisa berkarya...



Sesungguhnya tubuh kita adalah hal yang berharga.
Tak peduli apapun warnanya, apapun ukurannya, apapun bentuknya...
Syukurilah itu sahabat...
Karena di luar sana masih banyak yang mengharapkan mendapat fisik yang lengkap...
Kau lah ciptaan Tuhan yang terbaik...

Kau yang tampan,
Kau yang cantik,
Syukurilah itu..... 

Walaupun itu hanya sementara...

Sahabat dengarlah... 

Jutaan orang di luar sana.....
Berharap bisa melihat...
Berharap bisa mendengar...
Dan berharap bisa berbicara....
Seperti kita....

Kau tak pernah mengerti.... .
Dan tak kan pernah mengerti.....
Sadarlah sahabat.....
Bahwa sesungguhnya kau tidak kekurangan.....